Moell.co.id – Bunda, pernah nggak sih tiap kali bayi mulai menyusu, Bunda diam-diam menahan napas karena tahu detik berikutnya bakal terasa seperti dicubit atau bahkan disayat? Puting yang lecet, perih, kadang sampai berdarah, tapi Bunda tetap memaksakan diri Menyusui karena takut ASI-nya berkurang atau bayi jadi kelaparan. Rasanya campur aduk antara sayang sama si kecil dan pengen nangis tiap kali dia mulai menempel di payudara.
Tenang, Bunda nggak sendirian. Puting lecet saat menyusui adalah salah satu keluhan paling umum di minggu-minggu awal menyusui, dan kabar baiknya, ini hampir selalu bisa diperbaiki. Bukan berarti Bunda gagal menyusui atau harus buru-buru beralih ke susu formula. Yuk, kita cari tahu dulu penyebabnya, lalu cara meredakan dan mencegahnya supaya sesi menyusui bisa kembali nyaman.
Kenapa Puting Bisa Lecet Saat Menyusui?
Ada beberapa hal yang biasanya jadi biang keladi puting lecet. Kadang cuma satu penyebab, kadang gabungan dari beberapa hal sekaligus.
1. Pelekatan (Latch) yang Kurang Tepat
Ini penyebab nomor satu dan paling sering terjadi. Kalau bayi hanya “mengempeng” di ujung puting saja tanpa membuka mulut lebar dan melahap sebagian besar areola, gesekan yang terjadi setiap kali dia menghisap jadi terpusat di puting. Lama-lama, kulit di area itu jadi lecet, retak, bahkan bisa berdarah.
2. Posisi Menyusui yang Kurang Pas
Posisi tubuh Bunda dan bayi yang tidak sejajar atau bayi harus memutar kepala untuk mencapai payudara juga bisa memicu pelekatan yang salah. Ini sebabnya posisi menyusui yang benar sering disebut sebagai kunci utama pencegahan puting lecet — begitu posisi dan pelekatan diperbaiki bersamaan, banyak Bunda merasakan bedanya hanya dalam beberapa kali menyusui.
3. Tongue-Tie atau Kondisi Mulut Bayi
Sebagian bayi punya frenulum lidah yang pendek atau kaku (tongue-tie), sehingga sulit menjulurkan lidah dengan optimal saat menyusu. Akibatnya, bayi cenderung menggigit atau menghisap dengan cara yang kurang efisien, dan puting Bunda yang kena dampaknya.
4. Hisapan yang Terlalu Kuat atau Agresif
Bayi yang sangat lapar atau punya refleks hisap kuat kadang menarik-narik puting dengan tenaga besar. Kalau ini terjadi terus-menerus tanpa perbaikan pelekatan, kulit puting jadi mudah iritasi.
5. Penggunaan Pompa ASI yang Kurang Tepat
Ukuran corong (flange) pompa yang tidak sesuai dengan ukuran puting, atau daya isap yang disetel terlalu tinggi, juga bisa bikin puting lecet — bukan cuma dari menyusui langsung, tapi juga dari sesi pumping.
6. Faktor Lain
- Kulit kering atau eksim: membuat kulit puting lebih rentan pecah-pecah.
- Bra yang terlalu ketat: menimbulkan gesekan tambahan sepanjang hari.
- Membersihkan puting dengan sabun: menghilangkan minyak alami yang justru melindungi kulit puting.
Lecet Karena Pelekatan, atau Ada Masalah Lain?
Sebagian besar puting lecet memang bersumber dari pelekatan yang belum pas, dan biasanya rasa perihnya paling terasa di awal-awal menyusu lalu agak mereda begitu ASI mulai mengalir lancar. Tapi ada beberapa tanda yang menunjukkan penyebabnya bukan sekadar pelekatan, melainkan infeksi yang butuh penanganan medis:
- Nyeri seperti terbakar yang menjalar jauh ke dalam payudara, bahkan di antara sesi menyusui — bisa jadi tanda infeksi jamur (thrush).
- Puting tampak sangat merah mengkilap atau bersisik, kadang disertai gatal — juga ciri khas thrush, apalagi kalau bayi punya bercak putih di mulutnya.
- Demam 38°C ke atas disertai menggigil, payudara terasa panas, bengkak, dan area kemerahan yang meluas — ini gejala mastitis, peradangan pada jaringan payudara yang perlu diperiksa dokter.
- Keluar nanah atau cairan berbau tidak sedap dari luka di puting — tanda infeksi bakteri.
Kalau Bunda mengalami tanda-tanda di atas, jangan tunggu lama-lama untuk periksa ke dokter atau bidan, ya. Tapi kalau rasa perihnya “hanya” karena lecet biasa akibat pelekatan, ada banyak cara sederhana yang bisa Bunda coba sendiri di rumah.
Cara Meredakan Nyeri Puting Lecet Secepatnya
1. Perbaiki Pelekatan Lebih Dulu
Sebelum mencoba segala macam salep atau kompres, ini langkah paling penting: pastikan mulut bayi terbuka lebar sebelum menempel, dagu menyentuh payudara duluan, dan sebagian besar areola (bukan cuma puting) masuk ke mulutnya. Kalau pelekatan masih terasa salah, lepaskan perlahan dengan menyelipkan jari kelingking bersih di sudut mulut bayi, lalu coba lagi dari awal. Memaksakan sesi menyusui dengan pelekatan yang salah hanya akan memperparah lecetnya.
2. Oleskan Tetesan ASI di Akhir Sesi Menyusui
ASI mengandung sifat antibakteri alami dan bisa membantu melembapkan sekaligus mempercepat penyembuhan kulit puting yang lecet. Cukup peras sedikit ASI di ujung jari, oleskan tipis ke puting dan areola, lalu biarkan mengering di udara.
3. Biarkan Puting Kering Angin Setelah Menyusui
Hindari langsung menutup payudara dengan bra atau breast pad basah. Beri waktu beberapa menit agar puting benar-benar kering sebelum tertutup kain, supaya kelembapan berlebih tidak memperlambat penyembuhan.
4. Gunakan Breast Pad yang Breathable
Pilih breast pad berbahan katun atau yang punya daya serap baik dan sirkulasi udara lancar, lalu ganti sesering mungkin begitu terasa lembap. Breast pad yang lembap dan jarang diganti justru bisa memicu iritasi tambahan.
5. Kompres untuk Meredakan Nyeri
Kompres hangat sebelum menyusui bisa membantu melancarkan aliran ASI sehingga bayi tidak perlu menghisap terlalu kuat. Sebaliknya, kompres dingin setelah menyusui bisa membantu meredakan bengkak dan rasa nyeri.
6. Ubah Posisi Menyusui Secara Bergantian
Coba variasikan posisi menyusui — misalnya bergantian antara posisi cradle hold dan football hold — supaya tekanan pada puting tidak selalu jatuh di titik yang sama.
7. Pilih Salep yang Aman
Kalau butuh salep tambahan, pilih yang berbahan lanolin murni kelas medis atau produk yang memang diformulasikan aman untuk area yang bersentuhan langsung dengan mulut bayi, tanpa perlu dibersihkan sebelum menyusui berikutnya.
Kapan Harus Konsultasi ke Konselor Laktasi atau Dokter?
Puting lecet ringan biasanya membaik dalam beberapa hari begitu pelekatan diperbaiki. Tapi segera cari bantuan profesional kalau Bunda mengalami salah satu dari tanda berikut:
- Luka tidak membaik setelah 3-5 hari meski sudah memperbaiki pelekatan dan perawatan di rumah.
- Nyeri makin parah alih-alih berkurang dari waktu ke waktu.
- Demam, menggigil, atau payudara terasa panas dan bengkak — tanda mastitis yang butuh penanganan cepat.
- Kemerahan yang menyebar di sekitar puting atau payudara.
- Keluar nanah atau darah dalam jumlah banyak dari luka.
- Bunda merasa ragu atau tidak yakin apakah pelekatan bayi sudah benar — dan ini sangat wajar, apalagi buat Bunda yang baru pertama kali menyusui.
Konselor atau konsultan laktasi bersertifikat bisa mengamati langsung sesi menyusui Bunda dan bayi, lalu membantu mengoreksi pelekatan maupun posisi secara spesifik — sesuatu yang kadang sulit dipahami hanya lewat artikel atau video. Jangan merasa gagal atau malu untuk minta bantuan ini, justru itu langkah yang sangat tepat untuk menjaga perjalanan menyusui Bunda tetap berjalan.
Mencegah Puting Lecet agar Tidak Terulang
- Pelajari dan praktikkan pelekatan yang benar sejak sesi menyusui pertama, idealnya didampingi bidan atau konselor laktasi di hari-hari awal.
- Variasikan posisi menyusui supaya tekanan tidak selalu di titik yang sama.
- Susui sesuai sinyal lapar awal bayi (bukan menunggu sampai menangis kencang), karena bayi yang terlalu lapar cenderung menghisap lebih agresif dan terburu-buru.
- Jaga kelembapan puting dengan oles ASI atau produk yang aman, dan hindari sabun langsung di area puting.
- Pilih bra menyusui berbahan katun yang tidak terlalu ketat agar sirkulasi udara tetap baik.
- Periksa ukuran corong pompa ASI jika Bunda rutin memompa, pastikan ukurannya pas dan daya isap tidak berlebihan.
- Pahami dasar-dasar perawatan diri selama menyusui lewat referensi yang tepercaya, misalnya panduan singkat untuk ibu hamil dan menyusui yang merangkum banyak hal praktis seputar masa menyusui.
Tanya Jawab Seputar Puting Lecet Saat Menyusui
Apakah normal puting lecet di minggu-minggu awal menyusui?
Cukup umum terjadi, terutama sebelum pelekatan bayi dan Bunda benar-benar “klik”. Tapi normal bukan berarti harus dibiarkan — begitu terasa perih berlebihan, segera evaluasi pelekatan dan posisi menyusuinya.
Bolehkah tetap menyusui langsung meski puting sedang lecet?
Boleh, dan justru dianjurkan selama pelekatan sudah diperbaiki, karena berhenti menyusui total malah bisa memicu payudara bengkak dan menambah masalah baru. Kalau terlalu sakit di satu sisi, mulai menyusui dari payudara yang tidak lecet lebih dulu, lalu pindah sisi setelah refleks ASI mengalir (let-down) muncul.
Berapa lama biasanya puting lecet sembuh?
Dengan perawatan yang tepat dan pelekatan yang sudah dibetulkan, sebagian besar kasus membaik dalam 3-7 hari. Kalau lebih dari itu belum ada perbaikan, sebaiknya periksa ke konselor laktasi atau dokter.
Apakah harus pakai nipple shield (pelindung puting)?
Nipple shield kadang membantu sementara waktu, tapi sebaiknya digunakan atas saran konselor laktasi, karena penggunaan yang kurang tepat justru bisa mengganggu produksi ASI atau membuat bayi terlalu bergantung pada alat tersebut.
Apakah puting lecet bisa memengaruhi produksi ASI?
Rasa nyeri yang membuat Bunda ragu-ragu menyusui atau mempersingkat durasi menyusu memang berpotensi memengaruhi rangsangan produksi ASI. Justru karena itu, penting untuk segera mengatasi penyebabnya, bukan menghindari menyusui sama sekali.
Puting Lecet Bukan Akhir dari Perjalanan Menyusui Bunda
Rasa perih setiap kali menyusui memang melelahkan, secara fisik maupun emosional. Tapi puting lecet bukan tanda Bunda gagal, dan bukan berarti Bunda harus menyerah dari menyusui langsung. Ini masalah yang sangat umum, penyebabnya jelas, dan hampir selalu bisa diperbaiki begitu pelekatan dan posisi menyusui dibetulkan, dibarengi perawatan sederhana di rumah. Beri diri Bunda waktu, jangan ragu minta bantuan konselor laktasi kalau dibutuhkan, dan percaya bahwa rasa sakit ini biasanya sementara — sementara ikatan dan manfaat menyusui yang Bunda bangun bersama si kecil akan jauh lebih panjang usianya.
Punya pertanyaan lain seputar perawatan si kecil? Konsultasi gratis dengan tim Moell melalui WhatsApp di sini: Chat Moell via WhatsApp.







