Moell.co.id – Bunda lagi buka-buka buku KIA sambil garuk-garuk kepala? “Lho, ini DPT kok muncul lagi di kolom 18 bulan? Padahal kemarin udah disuntik pas usia 4 bulan.” Wajar banget kalau bingung, karena Imunisasi dpt ini memang salah satu vaksin dengan jumlah suntikan yang paling sering ditanyakan orang tua. Beda dengan vaksin lain yang cukup 1-2 kali, DPT perlu diulang beberapa kali dalam beberapa tahun ke depan.
Nah, biar Bunda nggak salah hitung atau malah khawatir berlebihan tiap kali diajak balik ke Puskesmas, yuk kita bahas tuntas: imunisasi DPT itu sebenarnya berapa kali, kapan saja jadwalnya, dan kenapa harus diulang-ulang. Artikel ini fokus khusus ke DPT ya, Bun — kalau mau lihat gambaran besar semua jenis imunisasi dari lahir sampai 5 tahun, Moell juga punya panduan “Imunisasi Dasar Lengkap” yang bisa dibaca terpisah.
Apa Itu Imunisasi DPT dan Kenapa Penting?
DPT adalah vaksin kombinasi yang melindungi anak dari tiga penyakit sekaligus, yaitu:
- Difteri — infeksi bakteri yang menyerang saluran napas, bisa menyebabkan selaput tebal di tenggorokan sampai sulit bernapas.
- Pertusis (batuk rejan) — batuk hebat yang bisa berlangsung berminggu-minggu, sangat berbahaya untuk bayi kecil karena bisa memicu henti napas.
- Tetanus — infeksi akibat racun bakteri yang masuk lewat luka, menyebabkan kejang otot yang bisa mengancam nyawa.
Ketiga penyakit ini terdengar “kuno”, tapi kenyataannya masih ada kasusnya di Indonesia sampai sekarang. Itu sebabnya DPT masuk dalam imunisasi wajib program pemerintah, biasanya diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi DPT-HB-Hib (disebut juga vaksin pentavalen) yang sekaligus melindungi dari Hepatitis B dan Hib.
Imunisasi DPT Berapa Kali? Ini Jadwal Lengkapnya
Ini bagian yang paling sering bikin bingung. Jawaban singkatnya: total ada 5 kali suntikan DPT yang perlu diberikan sejak bayi sampai usia sekolah dasar, ditambah booster Td (tetanus-difteri) berikutnya di usia sekolah lanjut. Rinciannya begini.
Dosis Dasar (Primary Series) — 3 Kali
Dosis dasar diberikan berurutan saat bayi masih kecil, dengan jarak minimal 4 minggu antar suntikan:
- Dosis 1 — usia 2 bulan
- Dosis 2 — usia 3 bulan
- Dosis 3 — usia 4 bulan
Booster (Imunisasi Lanjutan) — 2 Kali
- Booster 1 — usia 18 bulan
- Booster 2 — usia 5-7 tahun, biasanya diberikan lewat program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) saat anak kelas 1 SD
Setelah itu, proteksi tetanus-difteri tetap dijaga lewat suntikan Td di kelas 2 dan kelas 5 SD melalui program BIAS di sekolah, jadi Bunda nggak perlu repot mengatur jadwalnya sendiri lagi karena biasanya sudah terjadwal dari sekolah dan Puskesmas setempat.
| Dosis Ke- | Usia Pemberian | Keterangan |
|---|---|---|
| 1 | 2 bulan | Dosis dasar pertama, biasanya dalam Vaksin dpt-HB-Hib |
| 2 | 3 bulan | Dosis dasar kedua |
| 3 | 4 bulan | Dosis dasar ketiga, melengkapi seri dasar |
| 4 (Booster 1) | 18 bulan | Penguat pertama, memperpanjang masa lindung |
| 5 (Booster 2) | 5-7 tahun | Penguat kedua, biasanya lewat program BIAS di sekolah |
| Td lanjutan | Kelas 2 & 5 SD | Menjaga proteksi tetanus-difteri jangka panjang |
Kalau Bunda ingin lihat DPT ini posisinya di mana dibanding jadwal vaksin lain seperti campak, polio, atau MR, silakan cek juga panduan lengkap kesehatan dan tumbuh kembang anak usia 0-5 tahun dari Moell, di sana jadwal seluruh imunisasi dasar dirangkum jadi satu.
Kenapa DPT Harus Diulang Berkali-kali?
Banyak Bunda bertanya, “Kenapa sih nggak sekali suntik aja langsung kebal seumur hidup?” Jawabannya ada di cara kerja sistem imun anak.
Dosis pertama sampai ketiga (2, 3, 4 bulan) berfungsi untuk “mengenalkan” sistem imun bayi pada bakteri penyebab difteri, pertusis, dan tetanus, supaya tubuhnya mulai membentuk antibodi. Namun kadar antibodi dari dosis awal ini lama-lama menurun seiring waktu, apalagi pada anak kecil yang sistem imunnya masih berkembang. Di sinilah booster berperan, yaitu untuk “mengingatkan kembali” sistem imun supaya kadar antibodi naik lagi dan bertahan lebih lama.
Khusus komponen pertusis, perlindungannya memang cenderung lebih cepat menurun dibanding difteri dan tetanus, sehingga booster berkala jadi kunci supaya anak tetap terlindungi sampai usia sekolah, saat risiko penularan di lingkungan ramai seperti kelas semakin tinggi.
Efek Samping Setelah Imunisasi DPT
Dibanding beberapa vaksin lain, DPT memang cukup dikenal sebagai salah satu vaksin yang reaksinya sedikit lebih terasa pada sebagian anak. Tapi tenang, Bun, ini termasuk wajar dan biasanya ringan. Berikut yang mungkin muncul:
- Nyeri dan bengkak di area suntikan — kulit di sekitar bekas suntik bisa terasa keras, kemerahan, atau sedikit bengkak selama 1-2 hari.
- Demam ringan — biasanya muncul 6-24 jam setelah suntikan, suhu berkisar 37,5-38,5°C, anak masih aktif dan mau makan minum seperti biasa.
- Rewel atau kurang nyaman — bayi jadi lebih sering menangis atau susah tidur nyenyak di hari pertama.
- Nafsu makan menurun sementara — biasanya kembali normal dalam 1-2 hari.
Beberapa tips supaya si kecil lebih nyaman setelah imunisasi:
- Kompres dingin di area bekas suntik selama 10-15 menit untuk meredakan nyeri dan bengkak.
- Hindari memijat atau mengoleskan balsem/obat herbal di area suntikan karena justru bisa memperparah iritasi.
- Beri ASI atau minum lebih sering untuk membantu tubuhnya tetap nyaman.
- Istirahat cukup di rumah dulu, hindari bepergian ke tempat ramai atau panas dalam 1-2 hari pertama.
Untuk kulitnya sendiri, memilih produk perawatan yang lembut dan bebas SLS seperti Moell Body Lotion bisa membantu menjaga kenyamanan kulit di sekitar area suntikan tanpa bikin iritasi tambahan. Kalau si kecil terlihat rewel dan susah tenang, mengoleskan sedikit Moell Calming Rub di dada atau punggung juga bisa jadi bagian dari rutinitas menenangkan sebelum tidur.
Yang perlu diwaspadai: kalau demam anak naik di atas 38,5°C, muncul kejang, anak sangat lemas, atau bengkak di bekas suntik makin membesar dan terasa panas, segera hubungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Bagaimana Jika Jadwal DPT Terlewat atau Terlambat?
Namanya juga punya anak, kadang jadwal imunisasi bisa terlewat karena anak sakit, keluarga pindah domisili, atau sekadar lupa mencatat. Kabar baiknya, Bunda nggak perlu panik dan mengulang dari dosis pertama lagi.
Prinsip catch-up imunisasi yang berlaku adalah “lanjutkan, jangan mengulang”. Artinya:
- Kalau dosis dasar (2, 3, atau 4 bulan) terlewat, segera lanjutkan dosis yang tertinggal dengan jarak minimal 4 minggu antar suntikan, tanpa perlu mengulang dosis yang sudah pernah diberikan.
- Kalau booster 18 bulan terlewat, tetap bisa diberikan kapan saja begitu memungkinkan, selama belum masuk usia booster berikutnya.
- Kalau anak sudah terlanjur besar saat baru menyelesaikan dosis ke-4, dokter biasanya akan menyesuaikan apakah dosis ke-5 masih diperlukan atau tidak, tergantung usia saat itu.
Yang paling penting, segera bawa buku KIA ke Puskesmas, dokter anak, atau bidan terdekat supaya jadwal catch-up bisa disusun sesuai kondisi anak. Jangan menunda terlalu lama, karena makin lama jeda antar dosis, makin lama juga anak berada dalam kondisi belum terlindungi penuh.
Tanya Jawab Seputar Imunisasi DPT
Apakah imunisasi DPT boleh digabung dengan vaksin lain dalam satu kunjungan?
Boleh. Di jadwal imunisasi dasar, DPT (dalam bentuk DPT-HB-Hib) sering diberikan bersamaan dengan vaksin polio pada kunjungan yang sama. Dokter atau bidan akan menyuntikkan di lokasi tubuh yang berbeda.
Apakah DPT dan MR itu vaksin yang sama?
Bukan, keduanya berbeda. DPT melindungi dari difteri, pertusis, dan tetanus, sedangkan MR melindungi dari campak dan rubella. Kalau Bunda ingin tahu lebih detail soal vaksin MR, Moell juga punya artikel khusus “Imunisasi MR Adalah” yang membahas tuntas topik ini.
Apakah anak yang sudah terlambat DPT tetap dianggap kebal penuh?
Perlindungan tetap terbentuk asal seluruh dosis akhirnya dilengkapi, meski jadwalnya mundur dari waktu ideal. Yang penting jangan sampai ada dosis yang benar-benar terlewat sama sekali.
Bolehkah imunisasi DPT diberikan saat anak sedang flu ringan?
Kalau flu ringan tanpa demam tinggi, biasanya imunisasi tetap boleh dilanjutkan. Namun keputusan akhir tetap sebaiknya dikonsultasikan ke dokter atau petugas kesehatan saat kunjungan.
Apakah efek samping DPT akan sama parahnya di setiap dosis?
Tidak selalu. Sebagian anak bereaksi lebih terasa di dosis awal, sebagian lagi lebih terasa di dosis booster. Reaksinya juga bisa berbeda-beda antar anak meski di keluarga yang sama.
Melengkapi Semua Dosis, Bukan Cuma Menghitungnya
Jadi, imunisasi DPT berapa kali? Totalnya 5 kali dari usia 2 bulan sampai 5-7 tahun, ditambah booster Td di usia sekolah lanjut. Tapi angka ini sebenarnya bukan sekadar hitungan yang perlu dicentang satu-satu di buku KIA, Bun. Setiap dosis punya peran membangun dan menjaga kekebalan anak supaya benar-benar terlindungi dari difteri, pertusis, dan tetanus dalam jangka panjang.
Yang justru penting digarisbawahi: perlindungan optimal baru tercapai kalau seluruh rangkaian dosis diselesaikan, bukan berhenti di tengah jalan hanya karena anak sudah “kelihatan sehat-sehat saja”. Kalau ada dosis yang sempat terlewat, segera diskusikan jadwal catch-up dengan dokter anak, jangan ditunda. Dan kalau Bunda ingin memastikan seluruh jadwal imunisasi si kecil dari lahir sampai 5 tahun sudah lengkap, bukan cuma DPT, cek kembali panduan tumbuh kembang dan Kesehatan anak 0-5 tahun dari Moell sebagai referensi lengkapnya.
Punya pertanyaan lain seputar perawatan si kecil? Konsultasi gratis dengan tim Moell melalui WhatsApp di sini: Chat Moell via WhatsApp.
